Behavioral Finance: Jenis dan Dampaknya yang Perlu Diketahui Investor

Dalam berinvestasi, investor tidak hanya sekadar memahami fundamental dan teknikal saja. Sebab ada faktor psikologis yang dapat mempengaruhi investor dalam membuat keputusan investasi. Jika investor terlalu dipengaruhi oleh emosi, maka investor akan terlalu percaya diri atau terlalu khawatir dalam mengambil keputusan. Sehingga keputusan investor dapat menjadi tidak rasional atau tidak terprediksi.

Oleh karena itu, ketahui lebih dalam tentang behavioural finance dan beragam informasi lengkapnya dalam artikel berikut.

     A. Apa Itu Behavioral Finance?

Sahabat Profits pernah mendengar kata Behavioral Finance?

Istilah ini merujuk pada cabang Ilmu Ekonomi yang mempelajari hubungan antara perilaku psikologis manusia dan pengaruhnya dalam pengambilan keputusan keuangan. Behavioral finance sendiri menggambarkan perilaku investor yang tidak dapat dijelaskan secara terstruktur, tidak seperti modul keuangan yang sistematis. Faktor psikologis ini juga dipengaruhi oleh berbagai bias. Bias merupakan ketidaknetralan pemikiran seseorang, membawa pada penilaian yang sempit dan tidak luas. Dalam behavioral finance terdapat beberapa bias, di antaranya seperti yang dijabarkan pada penjelasan di bawah ini.

 

     B. Bias Umum dalam Keuangan

  1. Overconfidence Bias

Pada overconfidence bias, investor terlalu percaya diri dalam mengambil keputusan investasi dan menganggap analisis yang dibuat pasti benar. Sehingga tidak ada analisis keuangan yang mendukung penilaian ketika memutuskan berinvestasi.

Sebagai contohnya, seorang investor memutuskan membeli satu saham, lalu investor menanamkan seluruh modalnya karena yakin analisis pribadinya tepat. Padahal bila investor menganalisis cek keuangan sebuah perusahaan, maka investor tersebut bisa memiliki gambaran apakah perusahaan layak atau tidak untuk kita beli sahamnya. Sehingga keputusan yang diambil tepat dengan analisis fundamental dan teknikal yang dilakukan, bukan karena kepercayaan tanpa dasar yang jelas.

   2. Herding Bias

Jika sebelumnya pembahasan mengacu pada pola pikir seorang yang terbilang independen, maka herding bias adalah kondisi di mana investor mengambil keputusan investasi karena mengikuti suara mayoritas, tanpa adanya analisis mandiri. Hal ini diumpamakan seperti pengalaman seorang investor pemula dalam mengambil keputusan berinvestasi dengan mengikuti orang lain karena belum mengerti cara menganalisis pasar saham.

Sebagai contohnya, banyak investor berinvestasi di saham tertentu. Walaupun pernyataan dari para investor dan sekitar cukup meyakinkan, tapi Sahabat Profits harus menganalisis sendiri untuk meyakinkan penilaian tersebut. Jadi lakukanlah DYOR (Do Your Own Research) dan jangan membeli saham karena sedang ramai diperbincangkan tanpa analisis tepat oleh diri sendiri ya, Sahabat Profits!

   3. Loss Aversion

Loss aversion merupakan bias psikologis yang menciptakan efek ketakutan lebih kuat akibat kehilangan, dengan tekanan dua kali lipat dibandingkan dengan perasaan senang saat menerima imbalan. Bila investor mengalami kerugian maka akan terasa jauh lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan keuntungan yang lebih besar. Meskipun terkadang kerugiannya terbilang kecil bila dibandingkan dengan keuntungannya. 

Perumpamaan sederhananya, saat fundamentalnya terlihat buruk dan harga sahamnya ikut menurun, investor tidak ingin menjualnya karena berharap harga saham akan kembali naik.  Dari sini, terlihat bahwa investor mengalami fase loss aversion yang lebih takut merealisasikan kerugian dibanding membuat keputusan rasional. Padahal investor semestinya dapat melakukan analisis mandiri dengan cermat pada laporan keuangan perusahaan tersebut.

   4. Anchoring Bias

Anchoring bias khas dengan perumpamaan “jeratan perangkap pertama,” di mana investor terpaku pada informasi atau angka acuan awal yang sudah tidak relevan dengan kondisi fundamental saat ini. Pengaruh anchoring bias dapat terjadi meskipun informasi yang diterima sangat minim, selama itu adalah yang pertama kali diketahui. Hal ini dapat mempengaruhi suatu keputusan karena tidak yakin akan penilaian sendiri dengan informasi luar yang diterima sebagai alat ukur dan menjadi sugesti yang terbentuk setelahnya.  Lalu, apakah dampaknya negatif atau positif jika terjadi?

Hal ini tergantung perspektif masing-masing investor. Dalam kajian psikologi, Bodenhausen dan rekannya dalam artikel jurnal yang mereka tulis menjelaskan bahwa kondisi emosi dapat mempengaruhi efek dari anchoring bias itu sendiri.

Contohnya, ketika seorang investor membeli saham pada harga Rp1.000 per lembar dan menahannya dengan harapan harga akan kembali ke Rp1.000 walaupun analisis fundamental menunjukan bahwa itu tidak mungkin terjadi. Situasi seperti ini menunjukan perangkap anchoring bias di mana titik harga awal menjadi jangkar dan menghalangi investor untuk membuat keputusan yang rasional, seperti mengurangi kerugian untuk mencegah kerugian lebih besar.

   5. Confirmation Bias 

Kata validasi dapat menggambarkan confirmation bias. Sebab confirmation bias merupakan sebuah sikap psikologis di mana investor hanya mencari informasi yang mendukung analisisnya dan mengabaikan informasi yang bertentangan. Akibatnya investor bisa mengabaikan peringatan dan menjadi terlalu percaya diri dengan penilaiannya, terlalu fokus pada satu saham, serta hanya mencari berita yang positif saja.

   6. Disposition Effect

Fenomena bias psikologis ini membuat investor cenderung cepat menjual saham yang sedang naik untuk memperoleh keuntungan, tetapi menahan saham yang mengalami kerugian besar. Sikap ini merupakan disposition effect di mana rasa takut akan kerugian lebih besar walau keuntungan yang didapat nilainya lebih tinggi. Sebagai contohnya ketika investor memiliki saham A yang naik 5% dan langsung menjualnya, tetapi saham B rugi 20% namun tetap holding. Hal ini dipengaruhi oleh penilaian pribadinya yang berkata “secure the profit” tetapi holding saham B dengan asumsi menunggu sampai nilainya naik.

 

     C. Dampak Positif dan Negatif Behavioral Finance

  • Dampak Positif

Adanya behavioral finance memiliki dampak positif dan negatif bagi investor. Dampak positif yang dialami, di antaranya:

  1. Membantu investor untuk mengambil keputusan investasi dengan lebih bijak. Jika bias yang telah dijelaskan di atas dapat dimengerti dengan baik, maka logika untuk meminimalkan kesalahan dalam analisis, pengambilan keputusan, atau pembuatan penilaian dapat diatasi dengan baik dan bijak.
  2. Pengendalian emosi untuk mencegah potensi kerugian sehingga memberikan ketenangan dalam berpikir untuk keputusan yang terbaik.
  3. Membantu Sahabat Profits untuk dapat mengatur dan mengelola risiko investasi dengan baik dari faktor psikologis.
  4. Berkat awareness mengenai bias psikologis, Sahabat Profits dapat mengatur emosi dan menganalisa risiko investasi dengan stabil.
  • Dampak Negatif

Sedangkan, dampak negatif dari behavioral finance, di antaranya berupa:

  1. Memicu trading atau investasi yang berlebihan.
  2. Emosi yang tidak stabil mengakibatkan kesalahan dalam mengambil keputusan ketika berinvestasi. Hal ini dapat meningkatkan potensi kerugian besar apabila rasionalitas tidak diseimbangkan.
  3. Fear Of Missing Out (FOMO) atau Fear, Uncertainty, Doubt (FUD) adalah faktor yang mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan, mengingat bahwa saran dari eksternal dapat menggiring penilaian dan menggeser keyakinan pribadi.
  4. Money Management menjadi berantakan apabila emosi tidak terkendali karena keputusan dan kontrol emosi yang tidak rasional.

 

     D. Cara Menghindari Bias Investasi

Untuk menghindari bias investasi, beberapa saran ini dapat dilakukan oleh investor, seperti:

  1. Pastikan melihat data berdasarkan fundamental dan teknikal. Sebab faktor fundamental membantu investor dalam menganalisis aspek nyata laporan keuangan perusahaan. Analisis teknikal sendiri dapat memberi gambaran engagement terhadap perusahaan sehingga investor bisa memutuskan apakah harus keluar atau masuk dari posisi.
  2. Tetap rasional dan jangan gegabah agar tidak overtrading atau melakukan trading berlebihan. Oleh karena itu, sebaiknya investor selalu punya vision yang jauh kedepan dan target dalam berinvestasi.
  3. High Risk High Return. Slogan yang cukup kuat untuk memberi peringatan terhadap para investor dalam menentukan batas risiko trading yang siap diterima.
  4. Selalu diversifikasi portofolio untuk mengimbangi imbal hasil dan berjaga-jaga apabila suatu saham anjlok secara drastis. Dengan memiliki cadangan di berbagai instrumen investasi (seperti obligasi, saham, reksa dana dan lain-lain guna menjadi second plan) maka dapat mengurangi risiko profil.
  5. Membuat trading plan atau investasi secara terukur sesuai profil risiko layaknya seorang manajemen risiko untuk diri sendiri.

 

     E. Contoh Behavioral Finance di Pasar Modal

Behavioral finance pernah terjadi secara langsung di pasar modal global, beberapa contohnya ialah:

  1. Gelembung Dot-Com (1999-2000)

Inovasi digital di era akhir tahun 1990 hingga awal 2000-an menjadi sumbu Gelembung Dot-Com terjadi. Berkembangnya internet yang menjadi dorongan antusias terutama potensi World Wide Web, memberikan gejolak api kepada perusahaan untuk menjadikannya terbuka namun dengan nilai yang tidak rasional. Oleh karena itu, kebaruan dari perusahaan dengan penggunaan “.com” menarik perhatian para investor. Investor jadi yakin melakukan investasi tanpa melihat fundamental. Rasa euforia, FOMO, FUD, dan spekulasi tinggi terhadap saham teknologi mengakibatkan harga saham naik sangat tinggi dan tidak rasional. Namun pada akhirnya saham teknologi mengalami penurunan yang sangat tajam. 

   2. Krisis Finansial 2008

The Great Recession dikenal dengan Krisis Finansial 2008, merupakan krisis keuangan yang terjadi di tahun 2008. Krisis ini membuat investor panik dan melakukan penjualan saham secara masif. Hal ini berdampak pada pasar saham di seluruh dunia yang kemudian ambruk. Pemicunya adalah Subprime Mortgage atau KPR berisiko tinggi yang default dan merugikan institusi keuangan. Lehman Brothers yang sudah dikenal sebagai bank investasi besar ikut terjerumus bangkrut dan memantik kepanikan secara global. Akhirnya para investor memutuskan untuk beralih ke aset yang dianggap aman seperti obligasi pemerintah, emas, dan uang tunai.

 

Itu dia pembahasan lengkap mengenai behavioral finance yang dapat dijadikan awareness bagi Sahabat Profits agar lebih stabil dalam berinvestasi. Untuk ketahui penjelasan detail seputar analisis fundamental dan teknikal, nantikan artikel selanjutnya dari Phintraco Sekuritas.

Baca artikel lain seputar saham di bagian Edukasi sekarang.

 

Penulis: Riska Novi Cahyani

Editor: Salsabila Wardhani & Yundira Putri R

Download Download Download Download