Artikel

Read More

Sell in May and Go Away: Mitos atau Fakta di Pasar Saham Indonesia?

29 May 2026 Artikel, Educated Investor
Setiap memasuki bulan Mei, sebagian pelaku pasar mulai mengamati fenomena musiman yang dikenal dengan istilah Sell in May and Go Away. Fenomena ini sering dikaitkan dengan kecenderungan melemahnya kinerja pasar saham global selama periode Mei hingga Oktober, terutama di negara-negara Barat yang memasuki musim panas. Meski berasal dari pasar luar negeri, strategi Sell in May and Go Away tetap menarik untuk dibahas dalam konteks pasar saham Indonesia. Pada beberapa periode historis, IHSG sempat menunjukkan pola pelemahan pada periode tersebut. Namun, pola ini tidak selalu terjadi secara konsisten setiap tahun. Lalu, apakah Sell in May and Go Away benar-benar relevan untuk pasar saham Indonesia, atau hanya sekadar mitos yang berkembang di kalangan investor? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Apa Itu Sell in May and Go Away?

Sell in May and Go Away adalah pepatah lama di pasar saham yang berasal dari pasar keuangan Inggris. Ungkapan lengkapnya adalah “Sell in May and Go Away and Come Back on St. Leger’s Day”. Pepatah ini merujuk pada kebiasaan sebagian pedagang dan kalangan bangsawan di Inggris yang meninggalkan aktivitas di kota selama musim panas, lalu kembali aktif pada awal November menjelang ajang pacuan kuda St. Leger’s Day di Doncaster, South Yorkshire. Dalam perkembangannya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan strategi investasi musiman. Sebagian investor memilih mengurangi eksposur saham pada periode Mei hingga Oktober, kemudian kembali masuk ke pasar pada November hingga April. Pandangan ini muncul karena aktivitas pasar pada musim panas dinilai cenderung lebih rendah dibandingkan periode akhir tahun.

Apakah Sell in May and Go Away Berlaku di Pasar Saham Indonesia?

Fenomena Sell in May and Go Away memang berasal dari pasar saham luar negeri. Namun, beberapa data historis menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia juga pernah mengalami pelemahan pada periode Mei hingga Oktober. Meski demikian, pola tersebut tidak selalu berulang dengan konsisten.

Analisis Sell in May and Go Away Berdasarkan Data 20 Tahun Terakhir

Berdasarkan data historis 20 tahun terakhir, strategi Sell in May and Go Away menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap indeks saham. Artinya, fenomena ini tidak dapat disimpulkan berlaku secara universal di seluruh pasar global.

1. IHSG Indonesia

Pada periode Mei hingga Oktober, IHSG tidak secara konsisten menunjukkan pola Sell in May and Go Away. Dalam 20 tahun terakhir, terdapat 13 periode dengan return positif dan 7 periode dengan return negatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih memiliki peluang untuk tumbuh pada periode Mei hingga Oktober. Namun, pergerakan IHSG pada periode tersebut tetap dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
  • Rilis laporan keuangan emiten yang tidak sesuai ekspektasi investor;
  • Pergerakan harga komoditas;
  • Ketidakpastian kondisi global; dan
  • Sentimen regional maupun domestik yang memengaruhi minat investor.

2. FTSE 100 Inggris

Berbeda dengan IHSG, indeks FTSE 100 Inggris menunjukkan pola Sell in May and Go Away yang lebih kuat. Berdasarkan data historis, selama periode Mei hingga Oktober dalam 20 tahun terakhir, hanya 2 tahun yang mencatat return positif, yaitu 2009 dan 2025, sedangkan 18 tahun lainnya mencatat return negatif. Fenomena ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:
  • Kebiasaan sebagian investor Inggris mengurangi aktivitas menjelang musim panas;
  • Penyeimbangan portofolio atau rebalancing;
  • Aksi profit taking sebelum musim gugur; dan
  • Kekhawatiran terhadap risiko perlambatan ekonomi.

3. S&P 500 dan Dow Jones Amerika Serikat

Sementara itu, indeks saham Amerika Serikat seperti S&P 500 dan Dow Jones tidak menunjukkan efek musiman yang terlalu signifikan. Berdasarkan data historis, kedua indeks tersebut cenderung lebih resilien pada periode Mei hingga Oktober dibandingkan FTSE 100. Ketahanan pasar saham Amerika Serikat pada periode tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
  • Fondasi ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat;
  • Dukungan likuiditas yang tinggi di pasar keuangan;
  • Peran investor institusi yang aktif sepanjang tahun; dan
  • Minat investor global terhadap saham-saham Amerika Serikat.

Strategi Sell in May and Go Away masih menunjukkan relevansi pada indeks tertentu, seperti FTSE 100 Inggris. Namun, fenomena ini tidak bersifat universal dan tidak selalu berlaku di seluruh pasar saham global. Di Indonesia, pola Sell in May and Go Away cenderung bersifat parsial dan tidak konsisten. Data historis IHSG menunjukkan bahwa periode Mei hingga Oktober tetap memiliki peluang mencatatkan return positif. Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan strategi musiman dalam mengambil keputusan investasi. Sebelum berinvestasi, penting bagi investor untuk tetap memperhatikan kondisi fundamental emiten, sentimen pasar, kondisi makroekonomi, serta profil risiko masing-masing. Dengan begitu, keputusan investasi dapat dibuat secara lebih objektif dan tidak hanya berdasarkan pola musiman.   Ingin dapatkan insight seputar pasar dan edukasi investasi lainnya? Kunjungi artikel Edukasi di website Phintraco Sekuritas sekarang.
Baca Laporan

Mengenal 5 Jenis Indeks Saham Syariah

Bagi investor yang memilih berinvestasi sesuai prinsip syariah, penting untuk memahami indeks sama syariah di pasar modal Indonesia. Selain sebagai acuan kinerja pasar, indeks saham syariah juga dapat membantu investor dalam menyeleksi saham yang sesuai dengan kriteria tertentu, salah satunya prinsip syariah. Di Bursa Efek Indonesia (BEI) terdapat puluhan indeks saham yang digunakan sebagai indikator pergerakan saham. Hingga Februari 2026, terdapat sekitar 45 indeks saham, dengan 5 di antaranya merupakan indeks saham syariah.   Apa itu Indeks Saham Syariah? Indeks saham syariah adalah ukuran statistik yang mencerminkan pergerakan sekelompok harga saham dengan kriteria prinsip syariah, sehingga sahamnya tidak mengandung riba, dan ditinjau secara berkala oleh BEI. Lembaga yang bertanggung jawab untuk menyeleksi dan menetapkan Daftar Efek Syariah (DES) ialah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang didukung oleh Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). DSN-MUI juga bertugas untuk memastikan aktivitas bisnis dan transaksi saham berjalan sesuai dengan syariah. Di Indonesia, terdapat 5 jenis saham syariah, yaitu ISSI, JII, JII70, IDXSHARGROW, dan IDX-MES BUMN 17. Kelima jenis saham tersebut akan ditinjau 2 kali dalam 1 tahun, tepatnya di bulan Mei dan November, dengan mengikuti jadwal peninjauan DES oleh OJK. Pada periode ini, akan ada saham yang masuk atau keluar dari masing-masing jenis saham.   Jenis Indeks Saham Syariah

1. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

ISSI dikeluarkan di pasar modal Indonesia pada 12 Mei 2011. Konstituen ISSI berasal dari seluruh saham syariah yang termasuk dalam DES, diterbitkan oleh OJK, serta tercatat di papan utama dan papan pengembangan.

2. Jakarta Islamic Index (JII)

JII dikeluarkan pada 3 Juli 2000 dengan konstituen terdiri dari 30 saham syariah paling likuid yang tercatat di BEI. Untuk menjadi konstituen JII, terdapat alur yang harus dipenuhi oleh emiten saham, yaitu:
  • Saham syariah telah tercatat selama 6 bulan terakhir.
  • Lalu dipilih 60 saham yang memiliki kapitalisasi pasar tertinggi selama 1 tahun terakhir.
  • Dari 60 saham tersebut, dipilih 30 emiten dengan nilai transaksi harian paling tinggi di pasar reguler.
  • Selanjutnya, 30 saham yang tersisa akan masuk dalam JII.

3. Jakarta Islamic Index 70 (JII70)

Dikeluarkan pada 17 Mei 2018, konstituen JII70 terdiri dari 70 saham paling likuid di BEI. Untuk masuk dalam konstituen JII70, alur yang harus dilalui oleh emiten, di atnaranya:
  • Saham syariah telah tercatat selama 6 bulan terakhir.
  • Selanjutnya dipilih 150 saham yang memiliki kapitalisasi pasar tertinggi selama 1 tahun terakhir.
  • Dari 150 saham tersebut, dipilih 70 emiten dengan nilai transaksi harian paling tinggi di pasar reguler.
  • Kemudian 70 saham yang tersisa akan masuk dalam JII70.

4. IDX Sharia Growth (IDXSHARGROW)

Dikeluarkan pada 31 Oktober 2022, IDXSHARGROW merupakan indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham syaria dengan tren pertumbuhan laba bersih dan pendapatan dengan likuiditas serta kinerja keuangan yang baik. Untuk tergabung dalam konstituen IDXSHARGROW, maka saham syariah harus:
  • Masuk ke JII70.
  • Membukukan laba bersih dan tidak memiliki price to earnings ratio (PER) bernilai tinggi.
  • Tiga puluh saham syariah dengan skor tren PER dan price to sales ratio (PSR) tertinggi akan terpilih menjadi konstituen IDXSHARGROW.

5. IDX-MES BUMN 17

Dikeluarkan pada 29 April 2022, IDX-MES BUMN 17 merupakan indeks yang mengukur kinerja harga dari 17 saham syariah serta afiliasinya. Pengukuran ini memiliki kriteria likuiditas dan fundamental perusahaan yang baik serta kapitalisasi pasar yang besar. Untuk menjadi konstituen di IDX-MES BUMN 17, maka saham syariah harus:
  • Masuk dalam ISSI.
  • Termasuk saham BUMN atau afiliasinya.
  • Dari saham BUMN yang ada, dipilih 17 saham konstituen berdasarkan likuiditas dan fundamentalnya.
  Itu dia beragam jenis indeks saham syariah yang perlu Anda tau. Sebagai investor, Anda dapat menyesuaikan pilihan saham syariah berdasarkan indeks tersebut, tujuan keuangan, jangka waktu investasi, serta tingkat risiko yang ingin dihadapi. Saham-saham yang termasuk konstituen indeks tersebut juga telah melalui proses seleksi sesuai dengan ketentuan, sehingga Anda tak perlu khawatir untuk mulai investasi melalui Profits Anywhere. Rasakan kemudahannya, download aplikasinya sekarang!   Penulis: Riska Novi Cahyani Editor: Yundira Putri Rahmadianti
Baca Laporan

Pola Return Sektoral saat Ramadan, Cenderung Positif atau Negatif?

12 Mar 2026 Artikel, Educated Investor
Bulan Ramadan identik dengan peningkatan konsumsi masyarakat, lonjakan mobilitas menjelang mudik, hingga perputaran uang yang cukup besar di dalam negeri. Dengan adanya kondisi ini, maka berpotensi menjadi pemicu positif bagi beberapa sektor di pasar modal Indonesia, terutama sektor konsumer, transportasi, dan perbankan. Tapi, apakah fenomena tersebut secara langsung membuat return saham di sektor tertentu akan selalu positif selama Ramadan? Untuk memahami dampak Ramadan bagi investasi, mari simak pola return sektoral selama lima tahun terakhir pada indeks IDXNONCYC, IDXCYC, IDXJBANK15, dan IDXTRANSPORT serta faktor lain yang memengaruhinya.   IDXNONCYC (Sektor Non-Siklikal) Sumber: Investing.com & data yang diolah
  • Karakteristik Sektor
Indeks IDXNONCYC mencakup saham-saham sektor kebutuhan pokok, seperti UNVR, ICBP, INDF, AMRT, MYOR, dan RALS. Sektor ini dikenal relatif stabil karena memproduksi barang kebutuhan sehari-hari yang permintaannya cenderung konsisten dan tidak terlalu dipengaruhi oleh siklus ekonomi.
  • Performa di Ramadan 2021-2025
Berdasarkan data lima tahun terakhir, efek Ramadan pada sektor ini tidak terlalu konsisten. Return positif memang terjadi pada beberapa periode, tapi di tahun lainnya justru return tercatat negatif.
  • Pola Bulanan
Menariknya, return tertinggi selama lima tahun terakhir lebih sering terjadi di luar periode Ramadan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain di luar momentum musiman lebih dominan dalam memengaruhi harga saham sektor non-siklikal.   IDXCYC (Sektor Siklikal) Sumber: Investing.com & data yang diolah
  • Karakteristik Sektor
Indeks IDXCYC mencakup perusahaan ritel, otomotif, dan gaya hidup, seperti ACES, AUTO, ERAA, MAPA, dan LPPF. Berbeda dengan non-siklikal, sektor ini sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat.
  • Performa di Ramadan 2021-2025
Selama lima tahun terakhir, return sektor ini justru lebih dominan negatif saat Ramadan dengan return positif hanya tercatat berada di tahun 2021.
  • Pola Bulanan
Return tertinggi sektor ini justru lebih sering terjadi di luar bulan Ramadan, khususnya pada kuartal II dan III. Hal ini mengindikasikan bahwa momentum pemulihan ekonomi atau sentimen lain lebih kuat dibandingkan efek musiman Ramadan.   IDXJBANK15 (Sektor Perbankan) Sumber: Investing.com & data yang diolah
  • Karakteristik Sektor
Indeks IDXJBANK15 terdiri dari bank-bank besar, seperti BBCA, BBNI, BBRI, BBTN, dan BMRI. Pergerakan sektor ini sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga, kondisi likuiditas, dan faktor makroekonomi.
  • Performa di Ramadan 2021-2025
Secara historis, selama lima tahun terakhir return sektor perbankan tidak selalu menunjukkan lonjakan signifikan saat Ramadan. Ini karena pengaruh kebijakan suku bunga bank sentral serta kondisi ekonomi global sering kali lebih dominan dibandingkan dengan faktor musiman. Namun, secara keseluruhan dalam periode lima tahun ke belakang, IDXJBANK15 relatif lebih konsisten mencatatkan return positif meskipun dalam batas terbatas.
  • Pola Bulanan
Return tertinggi sektor perbankan lebih sering terjadi pada kuartal IV, bukan saat Ramadan. Sektor perbankan juga lebih dominan menciptakan return positif meskipun dengan terbatas.   IDXTRANSPORT (Sektor Transportasi dan Logistik) Sumber: Investing.com & data yang diolah
  • Karakteristik Sektor
Indeks IDXTRANSPORT mencakup perusahaan transportasi dan logistik, seperti ASSA, WEHA, BIRD, dan GIAA. Sektor ini erat kaitannya dengan mobilitas masyarakat, aktivitas logistik, dan konsumsi domestik.
  • Performa di Ramadan 2021-2025
Sektor transportasi cenderung menunjukkan performa yang lebih positif. Meski demikian, kinerjanya tetap dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti harga energi, kebijakan pemerintah, dan kondisi makroekonomi.
  • Pola Bulanan
Dalam beberapa tahun terakhir, penguatan sektor ini lebih dipengaruhi oleh pemulihan ekonomi dan pertumbuhan belanja online. Selain itu, struktur demografi Indonesia yang didominasi usia produktif turut mendorong aktivitas logistik dan transportasi.   Data lima tahun terakhir menunjukkan bahwa asumsi “Ramadan selalu membawa return positif” tidak sepenuhnya terbukti. Beberapa sektor yang secara teori diuntungkan oleh peningkatan konsumsi tidak selalu mencatatkan return positif. Bahkan, dalam beberapa periode, return negatif justru lebih dominan dibandingkan positif. Maka dari itu, dalam strategi investasi, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan efek musiman Ramadan sebab pergerakan saham lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, arah kebijakan suku bunga, stabilitas geopolitik, dan faktor eksternal lainnya. Bagi investor, memahami pola return sektoral secara historis memang penting sebagai referensi. Namun keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan analisis fundamental, teknikal, serta kondisi ekonomi terkini.   Dengan dukungan data dan insight yang tepat, peluang investasi dapat dikelola secara lebih terukur. Akses informasi seputar pasar modal dan berbagai analisis terbaru melalui aplikasi Profits Anywhere.   Penulis: Riska Novi Cahyani Editor: Yundira Putri Rahmadianti & Dhira Parama Yuga
Baca Laporan

Video

Read More

Ini Tutorial Broker Meter di PROFITS Anywhere

23 Jan 2026 Educated Investor, Video
Tonton Video

Tutorial Penggunaan Fitur di PROFITS Anywhere

23 Jan 2026 Start The Journey, Video
Tonton Video

Cara Mudah Tarik Dana di PROFITS Anywhere

20 Nov 2025 Start The Journey, Video
Tonton Video

Kegiatan & Kelas

Read More

Mengenal Obligasi & ETF sebagai Alternatif Investasi

BISA
BEGINNER

13 June 2026

09.00-10.00 WIB

Adrian Fajar Eka Putra

Tetap Tenang di Tengah Ketidakpastian Pasar

BISA
INTERMEDIATE

20 June 2026

09.00-10.00 WIB

Aditya Prayoga

Diversifikasi Aset Investasi: Sukuk dan Reksadana Syariah

BISA
BEGINNER

27 June 2026

09.00-10.00 WIB

Axelliano Dinovan

Belum ada Jadwal EXIST saat ini!

Program Edukasi Derivatif

Pendaftaran PRODUKTIF Dibuka

PRODUKTIF

Tanggal Pendaftaran

25 May 2026 - 25 June 2026

Tanggal Acara

25 June 2026

Jam

14.00-15.00 WIB

Pembicara

Riska Novi Cahyani

Lokasi

Online, melalui Zoom

SPM Reguler Level 1

Pendaftaran Sekolah Pasar Modal Dibuka

Sekolah Pasar Modal

Tanggal Pendaftaran

06 May 2026 - 17 June 2026

Tanggal Acara

18 June 2026

Jam

09.00-10.00 WIB

Pembicara

Riska Novi Cahyani dan Yusuf Adi Pradana

Lokasi

Offline, di Ruang Seminar Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI)
Download Download Download Download