Research

PHINTAS Weekly Report 22 Oktober 2018

Ditopang oleh rilis kinerja emiten 3Q-2018, DJIA berhasil mencatat penguatan terbatas pada perdagangan akhir pekan lalu (19/10). Meskipun begitu, secara keseluruhan Wall Street cenderung melemah dibayangi oleh aksi sell off investor ditengah kekhawatiran terhadap potensi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang lebih agresif. Hal ini juga terlihat dari US 10-Year Treasury Yield yang kembali menguat mendekati kisaran 3.20% pada hari ini (22/10). Selain itu, nilai tukar Yen Jepang kembali menguat terhadap dolar AS sebesar 0.17% pada pagi hari ini (22/10) mengindikasikan adanya capital outflow dari aset-aset berisiko kepada aset safe haven. Selain dari adanya kekhawatiran terhadapp normalisasi kebijakan moneter, investor juga cenderung wait and see mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi global seiring dengan pertumbuhan PDB Tiongkok 3Q-2018 yang melambat (6.5% vs 6.7% YoY).

 

Dibayangi oleh berbagai sentimen di atas, Nikkei Jepang pada pagi hari ini (22/10) dibuka melemah signifikan melebihi 1%. Sementara itu, IHSG sendiri juga diperkirakan cenderung tertekan pada hari ini (22/10) seiring dengan antisipasi investor terhadap rilis kebijakan moneter BI pada Selasa (23/10). Sejalan dengan berlanjutnya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah, diperkirakan BI berpotennsi kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 bps.

Top